Close Menu
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Tulis Berita
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Stinky Meriahkan Nobar Persija vs Persib di Imagine Cafe Tangerang, Padukan Semangat Bola dan Musik Hari Ini

Stinky Meriahkan Nobar Persija vs Persib di Imagine Cafe Kota Tangerang, Padukan Semangat Bola dan Musik Hari Ini

Forum Kepakaran Indonesia (FKI) Adakan Konsolidasi Bahas Gagasan dan Kontribusi Bagi Kemajuan Bangsa dan Negara Hari Ini

Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Tulis Berita
  • Terkini
Netizen Voice
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
HOT TOPICS
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Tulis Berita
  • Terkini
Netizen Voice
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Tulis Berita
  • Terkini
You are at:Home»Terkini»Bencana Kekeringan: Kenapa Terus Terjadi, Apa Penyebab Utamanya, dan Solusi Nyatanya? Hari Ini
Terkini

Bencana Kekeringan: Kenapa Terus Terjadi, Apa Penyebab Utamanya, dan Solusi Nyatanya? Hari Ini

penulisBy penulisJuli 10, 2026 5:44 pm003 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Oleh : M. Adhie Pamungkas
Pemerhati Lingkungan

Setiap musim kemarau, banyak daerah di Indonesia kembali menghadapi krisis air bersih, gagal panen, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan. Kondisi ini seolah menjadi pola yang terus berulang dari tahun ke tahun. Karena itu, muncul pertanyaan penting: apakah kekeringan hanya disebabkan oleh faktor alam, atau ada peran manusia di baliknya?

Secara ilmiah, perubahan iklim memang menjadi salah satu penyebab utama. Suhu bumi yang meningkat membuat pola cuaca semakin tidak menentu. Fenomena El Niño juga dapat memperpanjang musim kemarau dan mengurangi curah hujan di banyak wilayah. Namun, kekeringan tidak bisa dijelaskan hanya dari sisi iklim. Aktivitas manusia turut memperparah kondisi tersebut.

Alih fungsi hutan menjadi permukiman, perkebunan, atau kawasan industri membuat kemampuan tanah menyerap air semakin berkurang. Penebangan pohon secara liar menghilangkan penyangga alami yang seharusnya menjaga kelembapan tanah. Selain itu, rusaknya daerah resapan, pencemaran sungai, dan eksploitasi air tanah yang berlebihan menyebabkan air hujan tidak tersimpan dengan baik sebagai cadangan. Akibatnya, saat musim hujan air melimpah dan memicu banjir, tetapi ketika kemarau datang, cadangan air justru habis dan masyarakat mengalami kekeringan.

Dalam perspektif Islam, kerusakan lingkungan juga dipandang sebagai akibat dari ulah manusia. Allah SWT berfirman:

«”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat dari perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Surah Ar-Rum 30:41)»

Ayat ini mengingatkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab besar sebagai khalifah di bumi. Tugas manusia bukan hanya memanfaatkan alam, tetapi juga menjaganya agar tetap seimbang dan bermanfaat bagi generasi berikutnya.

Lalu, apa solusi nyatanya?

Pertama, memulihkan ekosistem hulu melalui reboisasi, penghijauan, dan perlindungan kawasan resapan air. Hutan yang sehat membantu menyimpan air hujan dan menjaga ketersediaan air tanah.

Kedua, mengembangkan konservasi air seperti embung, sumur resapan, biopori, dan penampungan air hujan agar air tidak langsung terbuang.

Ketiga, mendorong pertanian berkelanjutan dengan teknik irigasi hemat air, pemilihan tanaman yang sesuai iklim, serta pengelolaan lahan yang lebih efisien.

Keempat, membangun kesadaran ekologis masyarakat sejak dini melalui pendidikan, kampanye lingkungan, dan kebiasaan hidup hemat air.

Kelima, memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan dunia usaha agar penanganan kekeringan dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan.

Dalam Islam, menjaga lingkungan juga bernilai ibadah. Rasulullah SAW bersabda:

«”Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu dimakan oleh manusia, burung, atau hewan, melainkan menjadi sedekah baginya.”
(HR. Sahih Bukhari)»

Hadis ini menunjukkan bahwa merawat alam bukan sekadar urusan dunia, tetapi juga bagian dari amal kebaikan. Pada akhirnya, kekeringan bukan hanya soal kurangnya hujan, melainkan juga soal bagaimana manusia memperlakukan bumi. Jika lingkungan dijaga dengan baik, maka risiko bencana dapat dikurangi dan kehidupan menjadi lebih aman.

Menjaga air berarti menjaga kehidupan.

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleKemhan RI Gelar Sosialisasi Pembinaan Kesadaran Bela Negara di Jember, Libatkan Pekerja dari Berbagai Sektor – Begini Penjelasannya
Next Article Mendagri Tegaskan Kesiapan Integrasikan Sistem Data Kemendagri ke Satu Data Indonesia Hari Ini
penulis

Related Posts

Stinky Meriahkan Nobar Persija vs Persib di Imagine Cafe Tangerang, Padukan Semangat Bola dan Musik Hari Ini

September 13, 2026 9:53 am

Stinky Meriahkan Nobar Persija vs Persib di Imagine Cafe Kota Tangerang, Padukan Semangat Bola dan Musik Hari Ini

September 13, 2026 9:36 am

Forum Kepakaran Indonesia (FKI) Adakan Konsolidasi Bahas Gagasan dan Kontribusi Bagi Kemajuan Bangsa dan Negara Hari Ini

September 13, 2026 8:05 am
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Top Posts

Dalam “Trauma”, NADI Memilih Sendiri Sebelum Kembali Membuka Hati Hari Ini

September 9, 2026 6:09 pm26 Views

Komisi III DPR Dukung BNN dan Tim Gabungan Bongkar Kasus 2,6 Ton Narkotika Cair Hari Ini

Agustus 20, 2026 12:21 am10 Views

Waka Komisi III DPR Puji BNN-Polda Kepri Bongkar 2,6 Ton Narkoba Cair Hari Ini

Agustus 20, 2026 12:02 am3 Views
© 2026 netizenvoice. Designed by netizenvoice.
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Tulis Berita
  • Terkini

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.